Makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Posted on August 16th, 2010. Written by Dani Taufani.

Garuda_PancasilaPelaksanaan acara proklamasi hari kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia dilaksanakan pada tanggal 17 Augustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta pukul 10.00 wib. Setelah bendera sang merah putih berkibar, para hadirin dengan spontan dan serentak menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman.

Menilik pada naskah proklamasi yang sakral, singkat, dan bernas itu. “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal tentang pemindahan kekuasaan dan lain- lain dilaksanakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya“.

Dua kalimat pendek itu sarat makna. Pemilihan kata-katanya cermat. Perhatikan kata kerja kedua kalimat itu. Pada kalimat pertama, kata kerja menyatakan (to declare) dapat mengundang pertanyaan apakah kemerdekaan memang dapat dinyatakan begitu saja? Secara ringan kita tentu akan menjawabnya “ya”, tetapi tidak pada 59 tahun lalu. Secara politis dan militer, situasi menjelang detik-detik proklamasi tidak mudah karena secara de facto Indonesia masih di bawah pendudukan militer Jepang. Sejak Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, secara de jure semua daerah pendudukan Jepang beralih kepada tentara sekutu.

Makna penting pilihan kata menyatakan itu akan lebih dapat kita hargai apabila dibandingkan dengan konsepsi tentang kemerdekaan yang berkembang pada tataran internasional saat itu. Ketika para pendiri Republik menggodok konsep dasar negara dan rancangan UUD 1945 pada sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang bersidang di Jakarta 28 Mei 1945-22 Agustus 1945 di Gedung Tyuoo Sangi-In (kini Gedung Pancasila, Departemen Luar Negeri). Hampir bersamaan dengan itu, juga berlangsung suatu konferensi The United Nations Conference on International Organizations (UNCIO) di San Francisco, AS, pada 25 April 1945 yang menghasilkan Piagam PBB. Piagam PBB disahkan dan ditandatangani 26 Juni 1945, hanya empat hari setelah Piagam Jakarta.

Kalimat kedua Proklamasi

Para perancang naskah Proklamasi memilih kata “pemindahan kekuasaan”. Mengapa tidak dipilih, misalnya, kata “serah terima”? Pemilihan kata “pemindahan” merupakan konsekuensi logis dari makna kalimat pertama, bahwa kemerdekaan yang dinyatakan itu adalah hak kita. Kata “memindahkan” merupakan tindak sepihak. Karena itu kita tidak memerlukan persetujuan siapa-siapa.

Berbeda dengan pengertian “serah terima”, yang merupakan tindakan dua pihak, antara yang menyerahkan dan yang menerima. Yang belakangan ini sejalan dengan konsepsi kemerdekaan atas persetujuan (by agreement) yang diinginkan negara-negara penjajah. Kalau konsep ini yang diterima, maka seperti dikatakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda van Mook pada 1942, Indonesia memerlukan 100 tahun lagi untuk merdeka, berarti tahun 2042 dan itu masih 38 tahun dari sekarang!

Karena perbedaan konsepsi atas kemerdekaan itulah, kita tidak pernah nyaman dengan penggunaan istilah “penyerahan kedaulatan” berdasar hasil Konferensi Meja Bundar pada Desember 1949. Konsepsi “serah terima” kekuasaan sebenarnya bertentangan dengan makna Proklamasi.

Dimensi internasional

Proklamasi mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia. Dengan pernyataan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 kesadaran kebangsaan Indonesia memuncak menjadi kemauan bulat bangsa untuk mewujudkan kedaulatannya. Esok harinya, 18 Agustus 1945, kelengkapan negara yang baru diproklamasikan itu disempurnakan. Hampir lengkaplah Indonesia sebagai suatu negara: memiliki wilayah, pemerintahan, dan rakyat. Masih satu lagi persyaratan bagi sebuah negara menurut hukum internasional yang belum dipenuhi, yakni pengakuan (recognition) dari masyarakat internasional.

Di dalam negeri, eksistensi fisik negara harus terus diperjuangkan. Membonceng pasukan sekutu yang kembali ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang, Belanda datang untuk memulihkan kembali kedaulatannya atas Hindia Belanda yang ditinggalkannya tahun 1942. Perlawanan tentara dan rakyat bersenjata amat mewarnai upaya mempertahankan eksistensi negara RI yang baru dilahirkan, khususnya periode 1945-1949. Tetapi perjuangan fisik hanya satu sisi dari satu mata uang. Sisi lainnya, diplomasi, yang tidak kurang sulitnya.

Kesulitan paling besar sebetulnya bukan karena berhadapan dengan Belanda saja, tetapi justru dengan tatanan internasional (termasuk hukum internasional) yang belum mengakui hak bagi negara-negara untuk merdeka. Karena itu, tantangannya luar biasa. Konsepsi tentang hak bangsa terjajah untuk merdeka yang ditampilkan para pendiri Republik memang revolusioner, sebab ia jauh di muka dibandingkan zamannya.

Yang kemudian perlu diperjuangkan oleh diplomasi Indonesia tidak hanya memperoleh pengakuan bangsa-bangsa lain atas eksistensi negara yang baru diproklamasikan, tetapi juga konsepsi akan hak bangsa untuk merdeka. Ini yang membedakan dengan banyak bangsa terjajah lainnya yang merdeka tahun 1960-an, yang dengan relatif mudah memperoleh pengakuan banyak negara lain.

Penulis : Iqbal Abdurrahman

Twitter | Facebook


bannerMKContest

This entry was posted on Monday, August 16th, 2010 at 5:13 am and is filed under Artikel, Kewarganegaraan, Sosial & Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site. You can leave a response, or trackback from your own site.

Dani Taufani

Dani Taufani adalah seorang mahasiswa, blogger, coder dan freelance web developer. Dia juga aktif sebagai leader di Microsoft Student Partners untuk regional Jawa Barat.

5 Responses »

  1. kebetulan ada tuags karya ilmiah di kampus tentang islam..hihih
    thx om
    mo izin ambil judulnya buat karya ilmiah,,hihihihi

    [Reply]

    admin Reply:

    Hehehe,, silahkan,, moga bisa membantu.. :)

    [Reply]

    wandira azzahrah Reply:

    wandira reply:
    aprli 11th,2013 ar 3:26 am
    susah benget mencari nya?

    [Reply]

  2. Tulisan bagus dan menarik. saya download untuk bahan ajar dan terima kasih

    [Reply]

    dani Reply:

    Silahkan mas, mohon untuk mencantumkan sumber referensinya :)

    [Reply]

Leave a Comment

[+] kaskus emoticons nartzco

Search